Selasa, 12 Agustus 2008

Bahan Bakar karbon Perusak Lapisan Ozon

Ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil sebagai sumber utama energi menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap kualitas lingkungan yang semakin buruk. Bahan bakar fosil merupakan penyumbang polutan udara yang terbesar. Bahan bakar ini digunakan hampir diseluruh sektor kehidupan. Mulai dari aktifitas industri, transfortasi, sampai pada aktifitas domestik (aktifitas rumah tangga). Bahan bakar fosil yang digunakan dalam berbagai aktifitas di atas menyebabkan timbulnya gas-gas yang sangat potensial menyebabkan kerusakan lapisan ozon yang biasa dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK). lapisan ozon ini adalah gas dengan rumus kimia O3 yang berfungsi sebagai filter radiasi sinar matahari. dengan keberadaan GRK ini dapat menarik atom O gas ozon sehingga gas ini menjadi tidak stabil sehingga ozon tidak berfungsi lagi sebagai penyaring radiasi sinar matahari. Selain itu GRK yang terkumpul pada lapisan atmosfer membentuk selubung yang menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh bumi ke atmosfer.

akibatnya akan terjadi kenaikan suhu permukaan bumi yang menimbulkan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim atau terjadinya iklim yang tidak menentu. hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap berbagai aktifitas masyarakat, khususnya masyarakat petani dan nelayan.

Aktiftas petani yang umumnya masih konvensional dalam artian masih tergantung pada musim tentunya akan mengalami penurunan produktifitas. waktu tanam yang kacau, belum lagi timbulnya berbagai macam penyakit yang tentunya akan menambah buruk atau mengacaukan sistem kehidupan masyarakat petani tradisional.

Perubahan iklim yang tidak menentu juga sangat mempengaruhi aktifitas nelayan. Perubahan pergerakan angin sebagai akibat adanya perubahan tekanan udara yang sangat drastis sangat mengganggu aktifitas nelayan di laut. Belum lagi adanya pergerakan air /arus air dengan gelombang yang cukup mengancam keselamatan jiwa nelayan.

Kenaikan suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan. pergerakan lelehan es ini dengan suhu yang cukup ekstrim/rendah juga menyebabkan terjadinya perubahan tekanan air dan akan berpengaruh terhadap arus air dan tentunya ekosistem laut.
biota laut perlu eradaftasi dengan kondisi ini dan individu yang tidak mampu beradaftasi tentunya lama kelamaan akan punah dan akan mempengaruhi keragaman hayati.

Begitu juga halnya di daratan, perubahan iklim ini tentunya akan menimbulkan dampak terhadap keberlangsungan hidup tanaman dan mikroorganisme lainnya. dan yang lebih berbahaya lagi bukan tidak mungkin akan timbul berbagai penyakit sebagai akibat dari "pemberotakan" mikrorganisme yang sebelumnya bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

adbrite